Keseimbangan Ekosistem di Bawah Geopark

BENTANG alamnya bukan saja indah, melainkan juga kaya bentuk, mulai dinding batuan karst, gunung api. pantai, hingga perbukitan hijau. Di sana pula tumbuh vegetasi. baik endemik maupun tidak. Itulah sekelumit cuplikan dari gambaran taman bumi atau geopark di Indonesia.

Negara ini memiliki tiga jenis geopark yang mencakup tingkatan berbeda, termasuk tingkat internasional. Geopark lokal berada di Raja Ampat, Papua Barat. Geopark nasional berada di Danau Toba, Sumatra Utara; Merangin. Jambi; Ciletuh, Jawa Barat; dan Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, geopark internasional berada di Gunung Sewu, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Danau Batur, Bali.

Geopark Ciletuh baru diresmikan menjadi geopark nasional tahun lalu dan bertarget lolos menjadi geopark internasonal pada 2017. Penentuan geopark internasional merupakan kewenangan UNESCO.

Tidak hanya Indonesia, banyak negara yang belakangan ini juga kian gencar menetapkan wilayah-wilayah sebagai geopark. Konferensi geopark internasional pun tahun ini akan mencapai tahun ke-7.

Peneliti Utama Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Hanang Samodra, mengatakan potensi Indonesia akan kepemilikan geopark sangatlah besar karena Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan gunung api, meskipun umurnya masih muda, hanya menyumbang 1/10 dari usia bumi. Lalu apakah ada hubungan mutualisme antara konservasi geopark dengan lingkungan hidup sekitar?

Soal itu, Hanang mengatakan geopark memperlihatkan keterkaitan kuat antara sisi geologi, biologi, dan budaya. Lewat geopark pula, sisi tersebut akan dapat lebih diperhatikan masyarakat.

“Seperti di Ciletuh, sumber air banyak, mengalir, hingga membentuk air terjun, menjadi daya tarik wisata. Yang perlu ditekankan menjaga mata airnya supaya tidak hilang. Masyarakat sudah sadar dengan tidak menebang pohon, apalagi yang berdiri didekat sumbet mata air. kata Hanang saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (14/1).

Dengan ditetapkan sebagai kawasan geopark, diharapkan masyarakat tidak akan merusak alam dan sumber penghidupannya. Endemik alami, seperti pohon jati, tetap tumbuh banyak di daerah yang kaya akan mineral kapur atau gamping.

Sementara itu, untuk kawasan geoparkyang melingkupi gunung api aktif, Hanang menjelaskan terdapat perlakuan khusus yang mengikuti, yaitu mitigasi ketika gunung mulai bergolak.

Batu gamping dan batu pasir

Geopark Gunung Sewu yang melibatkan tiga provinsi, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, memiliki karakteristik khas berupa kawasan karst.

Salah satu yang terkenal dan sudah menjadi tempat wisata ialah Gua Pindul. Airnya jernih menggenangi gua yang dari bagian atapnya masih menyisakan tetesan-tetesan air hasil rembesan dari bagian daratan di atasnya.

Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Edi Hidayat, menuturkan manfaat ekologis dari penetapan kawasan geopark.

Ia mencontohkan kawasan batu gamping di Geopark Gunung Sewu. Dengan terjaganya batu gamping di area itu, sumber air bersih bagi warga akan terus terjaga.

“Batu gamping punya kemampuan untuk menyimpan air. Kalau kena hujan terus-menerus, sebagian akan larut lalu membentuk gua dan saluran air bawah tanah. Kalau dirusak sudah pasti sumber air susah didapat, pun dengan keanekaragaman hayatinya khas ikut terancam,” tutur Edi.

Tak hanya batu gamping, terdapat pula batu pasir yang banyak terdapat pada kawasan geopark dengan ciri khas geologi. Kedua jenis batuan tersebut mampu menyerap “air dengan baik sehingga air dari daratan juga bisa terserap dengan baik. Tentu aktivitas memanfaatkan boleh dilakukan asalkan benar dan berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan sehingga berimbas pada ekosistem yang ada. (Wnd/M-3)

sumber : Sumber : Media Indonesia, edisi 16 Januari 2016. Hal: 16