Cagar Alam Geologi Karangsambung Perlu Dilindungi dari Eksploitasi

Jakarta – Mungkin belum banyak yang mengetahui Indonesia memiliki cagar alam geologi yang sangat unik di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah.

Untuk itu perlindungan dan pelestarian Cagar Alam Geologi Karangsambung (CAGK) pun harus dijaga dari aktivitas eksploitasi yang akan mengancam keberadaan cagar alam tersebut.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (BIKK) Karangsambung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Edi Hidayat mengatakan wilayah Karangsambung memiliki aspek strategis, karena merupakan kawasan dengan kondisi geologi yang unik baik dalam cakupan Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

“Di daerah ini tersingkap beraneka ragam batuan yang dihasilkan dari proses geologi yang sangat kompleks yaitu hasil tumbukan (subduksi) lempeng Benua Eurasia dengan lempeng Samudera Indo-Australia,” katanya di Jakarta, Jumat (6/3).

Sejak tahun 1964 lanjutnya Kampus Lapangan Geologi hingga sekarang bernama UPT Karangsambung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) inib telah digunakan dan dikunjungi ribuan mahasiswa dari bebagai perguruan tinggi dan berbagai jurusan.

Oleh sebab itu sebagai upaya dan kepedulian pemerintah untuk menyelamatkan keutuhan kawasan ini,10 November 2006 ditetapkan di Jakarta oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Nomor: 2817 K/40/MEM/2006 bahwa kawasan Karangsambung sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung.

Kala itu CAGK diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dengan luas area kawasan total sekitar 22.157 hektare.

“Ada 30 lokasi batuan yang dilindungi/dikonservasi pada kawasan CAGK ini. dilokasi tersebut siapun tidak boleh melakukan aktifitas penambangan karena akan merusak dan mengancam keberadaan batuan-batuan yang dilindungi,” paparnya.

Edi pun memandang mengingat CAGK sangat penting kawasan Karangsambung sebagai tempat studi kebumian. Keberadaan singkapan-singkapan batuan yang bernilai ilmiah tinggi (artefak bumi) harus dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya agar kawasan ini tetap lestari keberadaannya dan bermanfaat selamanya dari generasi ke generasi berikutnya.

Edi menambahkan tantangan ke depan meskipun Kawasan Karangsambung sudah resmi menjadi CAGK tetapi tidak menutup kemungkinan masih adanya eksploitasi batuan dan pasir di kawasan ini.

Ketidaktahuan masyarakat dan faktor ekonomi yang menjadi penyebab eksploitasi batuan dan sirtu masih berjalan di kawasan ini.

“Yang paling penting masyarakat tidak mengganggu atau melakukan aktivitas penambangan pada 30 lokasi yang sudah sangat jelas menjadi lokasi yang dilarang dieksploitasi,” ucapnya.

Edi menjelaskan UPT BIKK Karangsambung LIPI sejak tahun 2003 sudah sangat intensif melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya keberdaan CAGK ini.

Lagi-lagi alasan ekonomi membuat masyarakat masih melakukan aktivitas penambangan walaupun tidak menggunakan alat berat.

Hal inilah menurutnya yang ke depan harus dipecahkan oleh UPT BIKK Karangsambung LIPI dengan pemerintah daerah Kabupateb Kebumen untuk bisa mengurangi aktivitas penambangan dengan membuat lahan perkejaan yang lain.

sumber : http://www.beritasatu.com/nasional/254982-cagar-alam-geologi-karangsambung-perlu-dilindungi-dari-eksploitasi.html