Geowisata Karangsambung Menyimpan Batuan Tertua di Bumi Berusia 117 Juta Tahun. Ini Ulasan Lengkapnya

WhatsApp Image 2017-02-17 at 8.24.11 AM

KEBUMEN,HarianBernas.com-Karangsambung, nama sebuah desa dan nama kecamatan yang berjarak 20 Km arah utara Kota Kebumen ini sangat dikenal kalangan ahli geologi. Karangsambung menjadi satu-satunya tempat penelitian bebatuan di Indonesia dan sebagai Cagar Geologi Karangsambung.

Di Karangsambung ini, Pemerintah juga menetapkan fungsi tambahan, yaitu sebagai Taman Alam Geologi dan Geowisata Karangsambung. Sebagai geowisata, Karangsambung memiliki keunikan untuk simpanan jenis batuan yang tersebar di kawasan seluas 22.000 Km persegi. Batuan samudera dan benoa ada di sini. Malahan tersimpan batuan berumur 117 juta tahun. Batuan ini menjadi salah satu koleksi Museum Melange Karangsambung.

Batuan tertua (mungkin) di muka bumi ini tersimpan di Museum Melange, Balai Informasi Konservasi Kebumian (BIKK) Karangsambung. Batuan bernama mica schist ini merupakan batuan benoa (metamorphic rock), yang menjadi daya tarik wisatawan untuk melihat dan mempelajari proses terjadinya. “Batuan ini, jika terkena sinar matahari, mengkilap seperti kaca,“ kata Kepala Unit Pelaksana Tehnis (UPT) BIKK Karangsambung Edi Hidayat, ST, MT kepada Harian Bernas Jumat (17/2).

Batuan samudera dan benoa sengaja dijajar di halaman kantor UPT BIKK Karangsambung. Selain sebagai salah satu daya tarik Geowisata Karangsambung, batuan-batuan berbagai jenis, umur, dan proses terjadinya berbeda dipajang di bagian depan kantor sebagai pengisi taman Museum Melange ini. Batuan-batuan ini baru ditata agar lebih menarik di akhir tahun 2016.

“Di taman ini, ada mica schist, sebongkah,“ kata Edi Hidayat sambil menunjukan batuan seberat kurang lebih 30-an Kg, yang ditata menarik bersama puluhan jenis  batuan. Batuan-batuan itu tidak sekedar sebagai hiasan di halaman kantor BIKK. Namun, juga sebagai bahan pendidikan geologi bagi pengunjung. Selain itu, diberikan penamaan, proses terjadinya, dan umur batuan agar menjadi lebih menarik. Batuan-batuan itu harganya tak ternilai. Sulit dinilai dengan uang karena keunikanya.

Menurut Edi Hidayat, tiap tahun rata-rata pengunjung mencapai 12.000 orang. Sebagian besar berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa fakultas geologi dari perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Khusus untuk wisatawan pelajar dan umum, UPT BIKK Karangsambung menyiapkan 3 paket, yakni paket setengah hari, paket sehari, dan paket 3 hari menginap di BIKK. “Waktu batu akik sedang booming tahun 2015, pengunjung meningkat sampai 17.000 orang,“ kata Edy Hidayat.

Kunjungan wisatawan yang paling padat terjadi pada akhir semester libur sekolah. Sebagian besar datang berombongan satu sekolah. Mereka sering menginap dengan mengambil paket edukasi 3 hari. Pengunjung tidak hanya dari Jawa Tengah. Beberapa sekolah di luar Jawa Tengah juga ada. “ Ada sekolah internasional di Tangerang yang secara regular siswanya berkunjung ke sini,“ kata Edi Hidayat.

Menjadi wisatawan di Geowisata Karangsambung perlu stamina dan tubuh yang fit. Pengunjung yang mengambil paket edukasi 3 hari dan 1 hari, akan diajak ke lapangan untuk ditunjukan beberapa jenis batuan. Lokasi batuan yang dikunjungi merupakan batuan yang dikonservasi (dilindungi). Tidak mudah memang untuk menuju ke lokasi batuan yang dikonservasi.

Wisatawan bisa mendapat souvenir dalam bentuk batuan yang dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menjadi bahan pendidikan di sekolah-sekolah. Petugas membuatkan souvenir dengan harga Rp 20.000-an. Souvenir itu terlihat sederhana, tapi setelah diberi penjelasan tentang asal, umur, dan nama batuan, souvenir ini menjadi lebih bermanfaat. Batuannya  diambil di Sungai Luk Ulo. “Biasanya satu kelompok membeli satu souvenir ini,“ kata Edy Hidayat. (nwh)

Penulis : Nanang W Hartono

Editor : Paulus Yesaya Jati

Sumber : Harian Bernas