Pemkab Kebumen Targetkan Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong Diakui UNESCO

Penetapan kawasan Karangsambung-Karangbolong, Kebumen sebagai Geopark Nasional digadang akan membawa dampak positif bagi kemajuan daerah.

Penyerahan sertifikat kenaikan status menjadi geopark nasional itu diterima langsung Wakil Bupati Kebumen, Yazid Mahfudz di Bogor, (30/11/2018) 2018 silam.

Pemkab Kebumen bahkan menarget, dua tahun ke depan Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong bisa dinaikkan statusnya menjadi Geopark Global yang diakui UNESCO.

Yazid Mahfudz mengatakan, atas peningkatan status itu, pihaknya tidak akan berdiam diri.

Pemkab akan menindaklanjutinya dengan berbagai upaya pengembangan, antara lain melalui peningkatan sektor pariwisata berbasis edukasi (geowisata).

Pengembangan geowisata jadi isu penting di tengah masih tingginya angka kemiskinan di Kebumen.

Beberapa kecamatan di kawasan Geopark Karangsambung-Karangbolong merupakan kantong-kantong kemiskinan.

Yazid berharap, pengembangan geopark bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berimbas pada penurunan angka kemiskinan daerah.

“Tak boleh berdiam diri atas status ini.”

“Karena ini penting untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya saat Sarasehan Pengembangan Geopark Karangsambung-Karangbolong, Senin (21/1/2019).

Kawasan Geopark Karangsambung Karangbolong mencakup luasan sekitar 543 kilometer persegi, di 117 desa dan 12 kecamatan di Kebumen.

Geopark terdiri dari situs warisan geologi dan bentang alam di kawasan Cagar Alam Geologi Nasional Karangsambung serta Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gombong Selatan.

Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (BIKK) Karangsambung, Edi Hidayat mengatakan, perlu keterlibatan masyarakat dalam mengoptimalkan potensi geopark.

Sebab pihak yang paling diuntungkan dari penetapan status geopark ini adalah masyarakat setempat.

Prinsip pengembangan geopark harus mengutamakan konservasi, edukasi dan ekonomi lokal.

Pengelolaan geowisata pun mestinya diserahkan ke masyarakat, bukan pihak swasta yang cenderung memonopoli.

“Kesadaran masyarakat, alam sekitar punya potensi untuk mengelolanya butuh keterlibatan besar masyarakat,” terang dia.

Pembangunan infrastruktur pendukung geowisata pun harus diatur jangan sampai menghalangi pemandangan situs geologi (geosite) atau bahkan merusak fisiknya yang melanggar prinsip konservasi.

Karena itu, kesadaran maupun Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat setempat atau pengelola wisata perlu ditingkatkan

Edi melihat potensi besar terkait pengembangan geopark Karangsambung-Karangbolong.

Setiap tahun, tidak kurang dari 4.000 mahasiswa atau pelajar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia berkunjung ke Karangsambung untuk berburu ilmu pengetahuan.

Jika geowisata berhasil dikembangkan, segmentasi pengunjung geopark bukan hanya kaum pendidikan, melainkan juga masyarakat umum yang ingin berburu keindahan alam sekaligus menambah pengetahuan soal kebumian.

“Jika untuk pasar mahasiswa atau pelajar sudah.”

“Nanti masyarakat awam di luar itu juga kita bidik.”

“Karena konsep perlindungan cagar alam bukan cuma harus diketahui pelajar atau mahasiswa,” tambahnya.

Sementara menurut Peneliti utama Lipi Chusni Ansori, di kawasan Cagar Alam Geologi Nasional Karangsambung tedapat beragam jenis batuan purba yang mestinya ada di dasar samudera namun terangkat ke permukaan, karena proses subduksi selama ratusan juta tahun.

Sementara di karangbolong ada Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) yang unik.

Dua kawasan itu disatukan dalam Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dari yang membentang dari pegunungan utara hingga selatan.

“Kita mengusung tema lantai samudera. Untuk mengetahui dasar samudera, 4.000 meter di bawah laut, datang ke Karangsambung,” tandasnya.

Sumber: Tribunjateng.com dengan judul Pemkab Kebumen Targetkan Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong Diakui UNESCO, http://jateng.tribunnews.com/2019/01/21/pemkab-kebumen-targetkan-geopark-nasional-karangsambung-karangbolong-diakui-unesco?page=3.
Penulis: khoirul muzaki
Editor: galih pujo asmoro